LAMONGAN,Tribunpost.co — Rangkaian kegiatan Upacara Nata Jagat Nusantara dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 yang digelar oleh Yayasan Sanggar Cipta Alam di kawasan Sendang Sreto, Desa Pule, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, berlangsung sukses, khidmat, dan penuh rasa syukur.
Kegiatan yang berlangsung selama dua malam tersebut menjadi momentum kebersamaan masyarakat sekaligus ruang untuk memperkenalkan dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya serta kearifan lokal Nusantara.

Suasana sejuk kawasan Sendang Sreto semakin memberikan nuansa tersendiri. Rangkaian kegiatan diisi dengan doa, seni budaya, renungan, serta berbagai kegiatan yang mengangkat semangat kecintaan terhadap alam, budaya, dan jati diri bangsa.
Kegiatan tersebut juga mendapat perhatian dari sejumlah sesepuh dan pelaku budaya. Sesepuh PB Wilwatikta, Mbah Samsul, bersama jajaran, turut hadir memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan.
Hadir pula Sesepuh Budaya Bunda Tina Sekartaji, yang turut berperan dalam rangkaian doa dan penataan sesaji sebagai bagian dari tradisi budaya yang dihadirkan dalam kegiatan tersebut.
Sementara itu, dari Mojokerto turut hadir Host Talenta Bang Rama Nirwana dengan meciptakan sebuah karya Lukisan dengan Waktu 15 menit tema yang di usung bernama lukisan sakral bertema “Jawadwipa”. Karya tersebut menjadi salah satu bentuk ekspresi seni yang memperkaya rangkaian kegiatan sekaligus mempertemukan berbagai unsur pelaku budaya dalam satu ruang kebersamaan.
APRESIASI UNTUK PENDIDIKAN SENI DAN BUDAYA
Selain rangkaian upacara dan kegiatan budaya, momentum tersebut juga menjadi ruang apresiasi terhadap para penggerak regenerasi budaya.
Ketua Yayasan Sanggar Cipta Alam, Gus Arif Saifullah, memberikan Anugerah Penghargaan kepada Ketua Lembaga Sanggar Piwulang Jawi, Ibu Mega Surya Dwi Mei.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dalam mendampingi 17 anak didik untuk mengenal dan mempelajari seni serta budaya Nusantara.
Di bawah pendampingan Sanggar Piwulang Jawi, para peserta mendapatkan pengenalan dan pelatihan di antaranya teater, aksara Jawa, serta seni tari Nusantara.
Menurut Yayasan Sanggar Cipta Alam, proses tersebut menjadi bagian penting dalam membangun regenerasi pelaku budaya. Anak-anak tidak hanya diajak mengenal seni sebagai pertunjukan, tetapi juga memahami bahwa budaya merupakan bagian dari identitas dan jati diri bangsa.
BUDAYA SEBAGAI RUANG MEMBANGUN KEBERSAMAAN
Kegiatan Nata Jagat Nusantara diharapkan dapat menjadi ruang pertemuan antara generasi muda, sesepuh, seniman, pelaku budaya, masyarakat, dan berbagai elemen lainnya.
Semangat tersebut menjadi semakin penting di tengah perkembangan zaman, ketika generasi muda membutuhkan ruang untuk mengenal kembali akar budaya dan kearifan lokal di lingkungannya.
Gus Arif Saifullah selaku Ketua dan Pendiri Yayasan Sanggar Cipta Alam menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan sekaligus mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan.
Secara khusus, pihak yayasan menyampaikan apresiasi kepada Kepala Desa Sreto, Mbah Tres, beserta jajaran dan masyarakat yang turut membantu sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik.
“Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan sukses, khidmat dan penuh rasa syukur. Kami berterima kasih kepada para sesepuh, pelaku budaya, masyarakat, pemerintah desa, para peserta, anak-anak Sanggar Piwulang Jawi dan seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini,” ujar Gus Arif.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi langkah berkelanjutan untuk mengembangkan budaya dan kearifan lokal.
MENJAGA WARISAN, MENYIAPKAN GENERASI
Bapak Kusno SH, Selalu bidang Hukum dan Wakil Panitia acara memandang pelestarian budaya membutuhkan proses regenerasi. Karena itu, pendidikan seni dan budaya kepada anak-anak menjadi salah satu bagian penting yang terus didorong.
Pengenalan teater, aksara Jawa, tari Nusantara, serta berbagai bentuk kesenian lokal diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga mampu menjadi pelaku dan penerus kebudayaan.
Dari kawasan Sendang Sreto, semangat tersebut diharapkan terus berkembang menjadi gerakan bersama untuk menjaga alam, merawat budaya, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan kecintaan terhadap identitas Nusantara.
Upacara Nata Jagat Nusantara menjadi sebuah pesan bahwa kemajuan bangsa tidak harus meninggalkan akar budaya. Justru dari budaya, kearifan lokal, dan kesadaran generasi muda, jati diri bangsa dapat terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Alhamdulillah, dua malam kegiatan berlangsung dengan sukses, khidmat dan penuh syukur. Dari Sendang Sreto, semangat merawat budaya dan kearifan lokal diharapkan terus menyala untuk Nusantara. ( Red )












